Diberdayakan oleh Blogger.

Jumat, 10 Juni 2016

Hhmm.. ada apa dengan planet Nibiru pada tahun 2012?



planet nibiru ancaman dunia 2012
apakah itu planet nibiru? Untuk pengetahuan, sebuah planet bernama nibiru atau planet x(oleh nasa) sedang melengkapkan putaran orbitnya yang berlaku setiap 3600 tahun. Planet ini 100 kali ganda besar bumi dan sama besar dengan planet jupiter (musytari). Dijangkakan pada 2012 planet ini akan memberi kesan paling dahsyat kepada bumi dengan memutarkan
Published: By: Bariqi - 05.06

Kamis, 09 Juni 2016

Berita NASA

Kamu tahu ngga, pada tahun 1983, NASA mengorbitkan sebuat Satelit namanya The Infrared Astronomical Satellite (IRAS), yang bertujuan untuk mendeteksi object-object planet yang ada digalaxy kita . Dan hasilnya dari statelit ini menangkap adanya planet baru yaitu NIBIRU atau PLANET X yang akan memasuki Sistem tata surya matahari. (Baca selengkapnya disini)
Published: By: Bariqi - 05.06

Story season



pada suatu hari pernah ada seseorang yang bertanya iseng kepada saya , "kenapa allah menyimpan planet besar jauh dari matahari sedangkan planet kecil seperti kita dekat dengan matahari" , awal nya saya mau menjawab  "mungkin udah dari sana nya " tapi saya tidak menjawabnya , saya meminta waktu untuk berfikir apa jawaban yang paling tepat , hingga akhirnya saya menjawabnya , saya mengambil contoh planet terbesar dalam tatasurya kita jupiter ,"kalau allah menciptakan planet jupiter di depan kita (lebih dekat dengan mata hari) , maka planet kita sudah hancur lebih dahuli !" mungkin beberapa dari anda bertanya tanya mengapa planet kita bisa hancur hanya karena pindah posisi , tapi coba lihat gambar pada link di bawah ini



pada gambar itu terlihat dengan jelas bahwa banyak sekali asteroid yang menabrak planet jupiter .
mungkin beberapa dari anda bertanya , apa hubungannya tapi , fakta gravitasi menyatakan semakin besar suatu objek di luar angkasa maka semakin kuat tarikan gravitasi nya dan hal itu menjelaskan bahwa selama ini planet jupiter sudah banyak berjasa dalam melindungi kita , karena , asteroid yang seharusnya menabrak bumi jadi tertarik oleh gravitasi jupiter yang sangat kuat dan menabrak jupiter , maka dari itu banyak sekali hal yang harus kita syukuri di dunia ini , jadi jangan pernah menganggap hal seperti di atas tadi tidak begitu berguna , karena justru benda yang tidak kita anggap berguna lah yang paling berjasa ,


Published: By: Bariqi - 01.53

Sabtu, 04 Juni 2016

Apakah ada ruang yg mengisi kekosongan diantara bintang..?

Kita suka terlinta, bahwa di langit ada apa saja? Apa sama kayak di daratan..?
-
-
Ternyata Di langit ini, tidak ada ruang kosong diantara bintang bintang.. yok, berselancar di blog ini
A. Debu Antar Bintang
Published: By: Bariqi - 08.04

Minggu, 29 Mei 2016

Dengan Al-Quran kita menjadil lebih berwarna

Hasil gambar untuk colors
dakwatuna.com – Anak-anak merupakan amanah terbesar dari Allah yang harus dijaga, dilindungi dan dirawat dengan baik. Apalagi orang tua berperan penting dalam tumbuh kembang seorang anak, baik buruknya seorang anak tergantung orang tua ketika mendidik di waktu kecil. Nabi SAW bersabda: “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (beribadah kepada Allah). Lalu kedua orang tuanyalah yang menjadikannya sebagai seorang Yahudi, Nasrani, atau Majusi (Penyembah Api)”. (HR. Muslim)
Nah, melihat hadist di atas terbukti bahwasanya anak akan jadi seperti apa ketika dewasa tergantung orang tuanya yang mendidik. Seperti kata Imam Ghazali “Anak-anak kita adalah mutiara,” memang benar anak-anak itu bagai mutiara yang tak ternilai harganya. Bagaimna caranya agar mutiara tersebut tetap ada nilainya? Itu semua tergantung bagaimana cara orang tua menjaga dan merawatnya.
Tak jarang beberapa orang tua ketika anaknya menangis kebingungan untuk menenangkannya, dan berkata seperti ini. “Waah.. lihat itu burung di langit”. Padahal di langit tidak ada burung, memang menurut ilmu psikologi ketika anak menangis diminta untuk melihat ke atas. Tapi, tanpa sadar orang tua mengajarkan ketidak jujuran, ada juga ketika anak jatuh, orang tua menyalahkan lantainya. Tanpa sadar juga orang tua mengajarkan anak mengkambing-hitamkan lantai. Meski hal sepele itu kurang baik, karena setiap ucapan akan dipertanggungjawabkan kelak di akhirat. Itulah mengapa ketika dewasa beberapa anak merasa takut untuk mencoba hal baru, kurang percaya diri dan lain sebagainya. “Ketika anak diabaikan pada masa pertumbuhan awal, umumnya ia akan berakhlak buruk, seperti pendusta, pendengki, pencuri, suka mengadu domba, suka meminta, suka melakukan hal-hal tiada guna, suka tertawa, dan bertindak gila. Semua ini bisa dihindari dengan pendidikan yang baik”, tutur Imam Ghazali.

Tidak berhenti pada orang tua saja, pendidik atau sering disebut orang tua kedua di sekolah juga turut berkontribusi besar dalam mencetak karakter anak-anak. Negara akan maju jika memiliki generasi yang berpotensi, pemberani, mandiri dan berakhlak mulia. Melihat moral anak-anak saat ini cukup memperihatinkan, perlahan tergerus oleh zaman yang semakin modern. Di sinilah tugas seorang pendidik mengarahkan anak didiknya kepada kebaikan, sebagai fasilitator dalam belajar, sebagai uswah (teladan) di sekolah. Sebab setiap tindakan yang dilakukan seorang pendidik akan direkam anak didiknya, apalagi anak usia dini bisa dikatakan peniru ulung. Untuk itu harus berhati-hati setiap hendak berkata maupun bertindak.
Mendidik tidak asal-asalan ada ilmunya, apalagi mendidik anak-anak, harus penuh kasih sayang dan penuh cinta. Kenapa demikian?  Karena anak-anak tidak bisa dipaksa ataupun dikasari. Hati mereka lembut, sulit ditebak dan suka bermain, untuk bisa bersama mereka, orang tua dan pendidik harus bisa masuk ke dunianya. Untuk itu, orang tua dan pendidik hendaknya berkolaborasi dengan baik dalam mendidik anak-anak. Mumpung hati mereka masih bersih tak terwarnai, warnai hati mereka dengan Al Quran agar senantiasa yang diperbuat maupun diucapkan tidak jauh dari koridor islam. Waallahu ‘alam.
visit: bariqistudio.blogspot.com
Follow us: @dakwatuna on Twitter | dakwatunacom on Facebook
Published: By: Bariqi - 02.53

Ummi, Abi, Kami Butuh Kalian


Ilustrasi. (123rf.com / Jasmin Merdan)

dakwatuna.com – Anak adalah amanah terbesar bagi orang tua. Apapun yang menyangkut tentang anak, apakah itu ibadahnya, akhlaknya, pendidikannya tidak bisa lepas dari peran orang tua dan keluarga seperti hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah yang artinya:
“Setiap anak itu lahir dalam keadaan fitrah. Kedua orangtuanyalah yang membuat dia menjadi yahudi, nashara, atau majusi”.
Sebonafit apapun sekolah tetap dibutuhkan peran orang tua dan keluarga. Kenapa seperti itu?
  1. Karena kita orang tuanya lah yang diberikan amanah oleh Allah SWT, sementara guru di sekolah hanyalah membantu melengkapi peran orang tua sebagai pendidik. Walaupun anak kita bersekolah di sekolah dengan pendidikan agama (seperti sekolah IT dan pesantren) bukan berarti orang tua hanya memikirkan biaya pendidikannya saja. Guru-guru, Ustadz/ Ustadzah di sekolah hanya memberikan ilmu dan akhlak berupa stimulus-stimulus dan contoh-contoh. Hal ini karena begitu padatnya dan banyaknya materi pelajaran dan terbatasnya jam di sekolah. Jadi dengan siapa anak mengembangkan stimulus dan contoh yang telah diberikan oleh guru di sekolah dalam kehidupan sehari-hari? Jawabnya tentu saja orang tua dan keluarga. Jangan sampai stimilus dan contoh yang diberikan guru di sekolah menjadi “bantet” atau bahkan hilang setelah tiba di rumah. Di sekolah anak diajarkan sesuatu yang baik tapi ternyata orangtua mencontohkan kebalikannya. Misalnya di sekolah anak diajarkan tentang penghijauan, ternyata di rumah kebalikannya. Di sekolah anak diajarkan sholat dhuha, tetapi di rumah orang tua malas-malasan melaksanakannya. Jadi pendidikan di sekolah menjadi tak maksimal hasilnya walaupun itu adalah sekolah favorit atau sekolah mahal.

  2. Orang tua dan keluargalah lingkungan pertama dan terdekat dengan anak. Sebelum anak mengenal sekolah dan segala perangkatnya, orangtua dan keluarga yang dikenalnya terlebih dahulu. “Al Ummu madrasatul ulla. Ibu adalah sekolah yang pertama”. Pengajaran, pendidikan dan  kejadian-kejadian yang terjadi dengan orang tua dan keluarga menjadi bekal bagi anak memasuki dunia yang baru, yaitu sekolah. Orang tua dan keluarga mencontohkan selalu berdo’a sebelum melakukan pekerjaan, maka anakpun akan berlaku demikian. Jujur, maka anak akan menjadi orang yang jujur di sekolah. Disiplin, maka anakpun akan mudah disiplin di sekolah. Bila orangtua memberikan cinta dan kasih sayang kepada anak, anak akan mudah mengasihi kawan-kawannya di sekolah.

  3. Orang tua dan keluargalah yang paling memahami anak. Seperti kita ketahui jumlah guru di sekolah sangatlah terbatas. Jadi sangat lah sulit bagi guru untuk memahami murid-muridnya secara perorangan. Guru sangat membutuhkan informasi dari orang tua dan keluarga untuk mencoba memahami siswanya bagaimana watak, cara belajar anak, kondisi kesehatan anak, dan beragam informasi yang dibutuhkan guru di sekolah.
Jadi bagaimanapun sekolah anak, bagaimanapun Pak Guru, Bu Guru, Ustadz dan Ustadzahnya mengajar di sekolah, anak-anak kita tetap berkata “Ummi…Abi… kami butuh kalian”.
Published: By: Bariqi - 02.45